
Generasi Z, atau Gen Z, yang berusia antara 15-24 tahun menghadapi tantangan besar dalam mencari pekerjaan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada Agustus 2023, sekitar 9,89 juta atau 22,5 persen dari 44,47 juta penduduk di kelompok usia tersebut termasuk dalam kategori NEET (Not in Employment, Education, or Training). Ini berarti mereka tidak bekerja, tidak sedang bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan apa pun.
Apa yang Membuat Gen Z Sulit Mendapatkan Pekerjaan?
Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan Gen Z kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan. Berikut adalah lima di antaranya:
1. Persaingan Ketat di Pasar Kerja
Setiap tahun, pasar kerja Indonesia dibanjiri oleh jutaan lulusan baru yang siap bekerja. Namun, jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia terbatas, sehingga persaingan menjadi sangat ketat. Gen Z sering kali harus bersaing dengan sesama lulusan baru yang memiliki kualifikasi serupa. Tidak jarang, kualifikasi yang diminta oleh perusahaan terasa tidak realistis bagi mereka yang baru lulus, seperti permintaan pengalaman kerja beberapa tahun.
Meski banyak dari mereka yang sudah aktif mengikuti magang selama masa studi, ini tidak selalu menjamin kemudahan dalam mendapatkan pekerjaan. Selain harus bersaing satu sama lain, Gen Z juga harus berhadapan dengan pekerja yang lebih tua dan berpengalaman.
2. Mismatch Keahlian dengan Kebutuhan Industri
Ketidaksesuaian antara keahlian yang dimiliki oleh pencari kerja dengan kebutuhan industri juga menjadi salah satu penyebab utama sulitnya Gen Z mendapatkan pekerjaan. Tidak semua Gen Z melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, sementara perusahaan sering kali mencari kandidat dengan latar belakang pendidikan yang lebih tinggi. Bahkan, bagi mereka yang memiliki gelar sarjana, menemukan pekerjaan yang sesuai dengan keahlian mereka juga bisa menjadi tantangan.
Sistem pendidikan yang kurang adaptif terhadap perubahan kebutuhan industri sering kali menjadi penyebab terjadinya kesenjangan ini. Akibatnya, banyak Gen Z yang tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan oleh perusahaan.
3. Pertumbuhan Ekonomi yang Lambat
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lambat dalam beberapa tahun terakhir juga turut memengaruhi kesempatan kerja bagi Gen Z. Banyak perusahaan yang memilih untuk menekan laju perekrutan atau bahkan melakukan pemutusan hubungan kerja demi efisiensi. Ketidakpastian ekonomi global yang masih berlanjut juga memengaruhi investasi, baik asing maupun domestik, yang berdampak pada terbatasnya lapangan kerja berkelanjutan.
4. Perubahan Ekonomi dan Digitalisasi
Di era digitalisasi seperti sekarang, banyak perusahaan yang mulai beralih menggunakan teknologi yang membutuhkan keterampilan baru. Namun, keterampilan ini sering kali belum sepenuhnya diajarkan di institusi pendidikan. Akibatnya, banyak Gen Z yang belum siap menghadapi tuntutan teknologi baru di dunia kerja, sehingga sulit bersaing dengan kandidat yang lebih terampil.
5. Biaya Pendidikan yang Tinggi
Tingginya biaya pendidikan di Indonesia juga menjadi faktor penghambat bagi Gen Z dalam mendapatkan pekerjaan. Biaya yang mahal membuat akses ke pendidikan berkualitas menjadi terbatas. Padahal, persiapan untuk memasuki dunia kerja memerlukan pendidikan yang mendukung perkembangan keterampilan dan keahlian yang relevan. Sementara itu, banyak pekerjaan formal yang mensyaratkan minimal gelar sarjana sebagai kualifikasi dasar.
Kesimpulan
Gen Z menghadapi berbagai tantangan dalam memasuki dunia kerja. Persaingan yang ketat, ketidaksesuaian antara keahlian dengan kebutuhan industri, pertumbuhan ekonomi yang lambat, perubahan teknologi, dan tingginya biaya pendidikan merupakan beberapa faktor utama yang membuat mereka kesulitan mendapatkan pekerjaan. Oleh karena itu, penting bagi Gen Z untuk terus mengembangkan keterampilan dan adaptasi terhadap perubahan industri agar dapat bersaing di pasar kerja yang semakin kompetitif.