Terungkap! Sejarah Kontroversial Alat Kontrasepsi yang Kini Menghebohkan Dunia – Trend Updates

Terungkap! Sejarah Kontroversial Alat Kontrasepsi yang Kini Menghebohkan Dunia

Alat Kontrasepsi
source : gettyimages

Pemerintah menerbitkan peraturan baru mengenai penyediaan alat kontrasepsi untuk remaja dan anak usia sekolah, yang kini menjadi topik kontroversial di masyarakat.

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024, yang mengimplementasikan Undang-Undang No 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, menyoroti pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi untuk anak-anak dan remaja. Pasal 103 dari PP ini menegaskan perlunya pemahaman tentang sistem, fungsi, dan proses reproduksi sejak usia dini.

Selain itu, pasal tersebut juga mencakup aturan mengenai pelayanan kesehatan reproduksi untuk anak-anak dan remaja, termasuk penyediaan alat kontrasepsi sebagai salah satu layanan yang harus disediakan.

Bunyi ayat tersebut menimbulkan mispersepsi di kalangan masyarakat, karena sebagian berpendapat penyediaan alat kontrasepsi tersebut secara tidak langsung ‘menormalisasi’ hubungan seksual di luar pernikahan. Padahal, pemerintah menekankan pada sisi edukasinya.

Alat Kontrasepsi Pertama di Dunia

Berbicara tentang alat kontrasepsi, tahukah kamu bagaimana sejarahnya dan seperti apa alat kontrasepsi di dunia?

Dikutip dari Science Direct, Rabu (7/8/2024) sebelum abad ke-20, sebagian besar rujukan tentang kontrasepsi dikaitkan dengan hubungan seksual terlarang. Baru pada awal abad ke-20, pengendalian kelahiran tersedia bagi pasangan yang sudah menikah.

Di zaman modern, alat kontrasepsi digunakan untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, membuat perencanaan keluarga, hingga mencegah penularan penyakit melalui hubungan seksual.

Alat kontrasepsi sudah digunakan sejak zaman Mesir Kuno dan Mesopotamia. Cara pembuatan alat kontrasepsi pertama kali ditemukan dalam gulungan papirus yang berasal dari zaman Mesir Kuno dan Mesopotamia.

Disebutkan dalam gulungan papirus itu, pembuatan alat kontrasepsi dilakukan dengan memanfaatkan madu, daun akasia, dan serat yang digunakan sebagai alat penutup serviks agar sperma tak masuk ke rahim.

Orang Mesir Kuno juga memperpanjang pemberian ASI kepada anak mereka dari yang seharusnya selesai di usia 2 tahun menjadi 3 tahun. Cara ini dipercaya bisa mengendalikan kehamilan.

Orang Mesir Kuno juga mencoba penggunaan alat kontrasepsi ke hewan, yakni ke unta betina dengan memasukkan kerikil ke dalam rahim hewan tersebut.

Hal ini dilakukan sebagai bagian eksperimen untuk melihat apakah cara tersebut bisa mencegah kehamilan serta bisa diterapkan kepada manusia. Kelak, cara ini menjadi asal usul Intrauterine Device (IUD) atau KB spiral di zaman modern.

Selanjutnya, metode kontrasepsi penghalang dikembangkan. Penggunaan kandung kemih kambing sebagai selubung kewanitaan dijelaskan dalam literatur Romawi.

Pada abad ke-17, pengarang asal Venesia, Italia, Giacomo Girolamo Casanova yang dijuluki ‘pria nakal’, menggunakan kondom yang terbuat dari usus hewan.

Pada tahun 1920-an, penelitian mutakhir mengonfirmasi waktu ovulasi dan peran hormon ovarium, seperti estrogen dan progesteron, dalam proses reproduksi. Temuan ini memicu pengembangan metode kontrasepsi ritme, yang didasarkan pada variasi suhu tubuh dan kondisi fisik wanita setiap bulan, serta inovasi pil kontrasepsi. Uji coba besar-besaran pertama untuk pil dilakukan pada tahun 1956, dan sejak saat itu, pil tersebut telah mengalami berbagai penyempurnaan.

Sementara itu, IUD atau alat kontrasepsi dalam rahim, yang awalnya dirancang dari bahan pesarium logam untuk mengatasi nyeri haid, mulai digunakan secara luas pada tahun 1960-an. Hal ini terjadi setelah alat plastik fleksibel mulai tersedia di pasaran.

Sterilisasi, yang merupakan metode untuk mencegah kehamilan secara permanen, pertama kali diterapkan pada awal tahun 1900-an untuk tujuan eugenika. Namun, pada akhir abad ke-20, vasektomi dan penyumbatan tuba falopi menjadi metode kontrasepsi yang semakin populer.