Siapa Pavel Durov? Miliarder Telegram yang Diusir dari Negaranya Sendiri – Trend Updates

Siapa Pavel Durov? Miliarder Telegram yang Diusir dari Negaranya Sendiri

Telegram
source : shutterstock

Pavel Durov, pendiri dan CEO Telegram, ditangkap oleh pihak berwenang setibanya di Prancis, sebuah peristiwa yang memicu gelombang kritik internasional. Penangkapan tersebut terjadi pada Sabtu, 24 Agustus 2024, di Bandara Paris Le Bourget, dengan alasan bahwa Telegram diduga melanggar aturan Uni Eropa, meskipun platform tersebut telah memenuhi standar hukum yang berlaku di kawasan tersebut, termasuk Digital Services Act.

Sebagai pendiri Telegram, Pavel Durov telah membangun platform pesan instan yang kini digunakan oleh lebih dari 900 juta orang di seluruh dunia. Meskipun demikian, keberhasilan Telegram tak lepas dari kontroversi, terutama terkait kebijakan privasi dan enkripsi data pengguna. Menurut juru bicara Telegram, Durov dan perusahaannya selalu mematuhi hukum Eropa dan sering bepergian ke Eropa tanpa ada yang disembunyikan. “Tidak masuk akal kalau platform atau pemilik diminta untuk bertanggung jawab atas penyalahgunaan platform tersebut,” tegas juru bicara tersebut.

Durov sering dijuluki sebagai “Mark Zuckerberg dari Rusia” karena kesuksesannya dalam mendirikan platform media sosial Vkontakte (VK) pada tahun 2006. Namun, perjalanannya tidak selalu mulus. Pada tahun 2014, Durov dipaksa keluar dari perusahaannya sendiri setelah menolak bekerja sama dengan pemerintah Rusia yang meminta akses ke data pengguna. Keputusan ini mencerminkan prinsip Durov yang tak kenal kompromi terkait kebebasan berpendapat dan privasi.

Setelah meninggalkan Rusia, Durov mendirikan Telegram bersama saudaranya, Nikolai Durov, pada tahun 2013. Telegram dirancang sebagai platform yang mengutamakan kecepatan dan keamanan, serta berfungsi seperti gabungan antara SMS dan email. Selama tahun 2018-2020, Telegram sempat diblokir di Rusia karena menolak memberikan kunci enkripsi yang akan memungkinkan pemerintah Rusia mengakses data pengguna. Namun, Durov tetap teguh pada prinsipnya, bahkan saat menghadapi tekanan dari negara asalnya.

Di tengah pengasingannya, Durov terus membesarkan Telegram, menjadikannya salah satu platform pesan instan terpopuler di dunia. Durov menyatakan bahwa dia bahagia hidup tanpa memiliki properti di mana pun dan menganggap dirinya sebagai warga negara dunia. Pernyataan ini mencerminkan filosofi hidupnya yang bebas dan tanpa batasan.

Lahir pada tahun 1984 di Uni Soviet, Durov pindah ke Italia pada usia 4 tahun sebelum akhirnya kembali ke Rusia ketika ayahnya mendapat pekerjaan di Universitas St. Petersburg. Pada tahun 2021, Durov memperoleh kewarganegaraan Prancis, meskipun dia memilih untuk tinggal di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), di mana dia juga memiliki status kewarganegaraan.

Kekayaan Durov diperkirakan mencapai USD15,5 miliar, atau sekitar Rp240 triliun, menurut data Forbes. Meskipun belum menikah, Durov dilaporkan memiliki lima anak dari mantan pacarnya. Pada bulan Juli 2024, Durov mengungkapkan melalui unggahan di Telegram bahwa dirinya memiliki lebih dari 100 anak biologis yang dihasilkan dari donasi sperma.

Kisah hidup Pavel Durov menggambarkan seorang pengusaha yang berdedikasi pada prinsip-prinsip kebebasan dan privasi, bahkan ketika menghadapi tekanan dari negara dan pemerintah. Dengan Telegram, Durov telah menciptakan alat komunikasi yang diandalkan oleh jutaan orang di seluruh dunia, meskipun tantangan dan kontroversi terus mengikuti jejak langkahnya.