
Paetongtarn Shinawatra, putri dari mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra, telah terpilih sebagai Perdana Menteri (PM) Thailand. Ini merupakan momen bersejarah bagi Thailand karena Paetongtarn menjadi PM termuda yang pernah menjabat di Negeri Gajah Putih tersebut. Ia menggantikan Srettha Thavisin, yang diberhentikan dari jabatannya oleh Mahkamah Konstitusi (MK) karena melanggar etika.
Keputusan untuk memberhentikan Srettha Thavisin didasarkan pada pelanggaran etika berat yang dilakukannya. Mahkamah Konstitusi Thailand menemukan bahwa Srettha telah melanggar konstitusi dengan menunjuk seorang menteri yang sebelumnya pernah menjalani hukuman penjara. Keputusan ini dianggap oleh banyak pihak sebagai langkah politis, namun tetap diakui oleh Srettha. Dalam pernyataannya, ia menyatakan kesedihannya karena harus meninggalkan jabatannya, meski ia merasa telah melaksanakan tugasnya dengan integritas dan kejujuran.
Srettha Thavisin adalah seorang taipan real estat yang menjabat sebagai PM Thailand selama kurang dari satu tahun. Ia merupakan PM Thailand keempat dalam 16 tahun terakhir yang diberhentikan berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi. Kejatuhannya terjadi di tengah situasi politik yang kompleks di Thailand, di mana Partai Pheu Thai yang menaunginya serta para pendahulunya sering menjadi target pergolakan politik. Dua pemerintahan sebelumnya dari partai ini juga digulingkan melalui kudeta, yang merupakan bagian dari konflik lama antara keluarga miliarder Shinawatra dan saingan mereka dari kubu konservatif serta militer yang setia kepada kerajaan.
Setelah kejatuhan Srettha, Paetongtarn Shinawatra, putri dari Thaksin Shinawatra, muncul sebagai penggantinya. Paetongtarn, yang baru berusia 37 tahun, berhasil meraih dukungan mayoritas di parlemen, dengan mendapatkan 319 suara dukungan dari total 493 anggota parlemen dalam voting yang diadakan pada Jumat (16/8) pagi waktu setempat. Meski tidak hadir secara langsung di parlemen saat voting berlangsung, Paetongtarn menyaksikan jalannya pemungutan suara dari markas besar Partai Pheu Thai.
Paetongtarn adalah sosok baru di dunia politik. Sebelum terjun ke politik tiga tahun lalu, ia membantu menjalankan bisnis hotel keluarga Shinawatra. Ia belum pernah memegang jabatan publik sebelumnya, tetapi berhasil memenangkan hati para anggota parlemen dengan visi dan program yang ia usung. Terpilihnya Paetongtarn menandai kembalinya dinasti Shinawatra dalam kekuasaan Thailand, setelah ayahnya Thaksin dan bibinya Yingluck dilengserkan dalam kudeta militer beberapa tahun yang lalu.
Sebagai PM Thailand yang baru, Paetongtarn menghadapi berbagai tantangan besar. Salah satu tantangan utama adalah memulihkan perekonomian Thailand yang sedang terpuruk. Selain itu, popularitas Partai Pheu Thai yang semakin menyusut juga menjadi tantangan lain yang harus dihadapinya. Partai tersebut belum berhasil merealisasikan program bantuan tunai senilai 500 miliar Baht, yang merupakan salah satu janji kampanye utama mereka.
Dalam sebuah pernyataan kepada wartawan setelah memenangkan pencalonan dari Partai Pheu Thai, Paetongtarn menegaskan komitmennya untuk membawa Thailand ke arah yang lebih baik. “Negara ini harus bergerak maju,” ujar Paetongtarn. “Kami bertekad, bersama-sama, kami akan mendorong negara ini ke depan.”
Dengan pengalaman yang masih minim di dunia politik, Paetongtarn Shinawatra kini harus membuktikan bahwa dirinya mampu memimpin Thailand melalui masa-masa sulit ini, dan mengukir namanya dalam sejarah sebagai pemimpin muda yang berhasil membawa perubahan positif bagi negaranya.