Mantan Pejabat Asosiasi Sepak Bola China Dijatuhi Hukuman 11 Tahun Penjara karena Korupsi – Trend Updates

Mantan Pejabat Asosiasi Sepak Bola China Dijatuhi Hukuman 11 Tahun Penjara karena Korupsi

Sepak Bola China
source : gettyimages

Pengadilan di China telah menjatuhkan hukuman 11 tahun penjara kepada Li Yuyi, mantan Wakil Presiden Asosiasi Sepak Bola China (CFA), karena terbukti menerima suap. Keputusan ini menambah daftar panjang kasus korupsi yang tengah diungkap oleh otoritas China, yang saat ini sedang gencar menindak korupsi di sektor olahraga, khususnya sepak bola.

Li Yuyi, yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden CFA dari tahun 2015 hingga 2019, didakwa bersalah oleh pengadilan di Jingzhou, Provinsi Hubei. Pengadilan memutuskan bahwa Li bersalah atas tindakan korupsi yang dilakukannya selama bertahun-tahun, di mana ia diketahui telah mengumpulkan uang suap dan hadiah dengan nilai total lebih dari US$ 1,7 juta (Rp 26,4 miliar) dari tahun 2004 hingga 2021. Selain hukuman penjara, Li juga didenda sebesar US$ 140.000 (Rp 2,1 miliar). Semua aset yang diperoleh Li dari tindak korupsi juga diperintahkan untuk disita oleh negara.

Pada bulan Maret 2024, Li Yuyi telah mengakui kesalahannya, mengungkapkan bahwa ia telah menggunakan posisinya di CFA untuk kepentingan pribadi, termasuk mengumpulkan uang suap. Pengakuan ini menjadi salah satu dari serangkaian kasus korupsi yang mencoreng nama sepak bola China, sebuah industri yang sebelumnya diharapkan oleh pemerintah menjadi kebanggaan nasional.

Di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, pemerintah China telah meluncurkan kampanye besar-besaran untuk menumpas praktik korupsi di berbagai sektor, termasuk olahraga. Xi Jinping, yang dikenal sebagai penggemar sepak bola, memiliki visi besar untuk menjadikan China sebagai tuan rumah dan pemenang Piala Dunia. Namun, ambisi tersebut semakin sulit dicapai karena skandal korupsi yang terus terungkap, serta performa tim nasional China yang tidak memuaskan di kancah internasional.

Kasus Li Yuyi bukanlah kasus korupsi pertama yang melibatkan pejabat tinggi di dunia sepak bola China. Pada bulan Maret 2024, mantan kepala CFA, Chen Xuyuan, juga dijatuhi hukuman penjara seumur hidup setelah terbukti menerima suap senilai lebih dari US$ 11 juta (Rp 171,3 miliar). Dalam waktu yang sama, Li Tie, mantan kepala pelatih tim nasional China dan mantan pemain klub sepak bola Inggris Everton, juga mengaku bersalah atas tuduhan menerima suap sebesar US$ 10,7 juta (Rp 166,7 miliar) dan terlibat dalam pengaturan skor pertandingan (match-fixing).

Tidak hanya itu, pada bulan Mei 2024, televisi pemerintah China, CCTV, melaporkan bahwa Gou Zhongwen, mantan direktur Administrasi Umum Olahraga China, sedang diselidiki atas dugaan korupsi. Gou menjadi salah satu dari sekitar 10 pejabat tinggi CFA yang juga berada di bawah penyelidikan dalam beberapa bulan terakhir.

Kasus-kasus ini menunjukkan betapa seriusnya upaya pemerintah China dalam membersihkan dunia sepak bola dari korupsi. Namun, dengan terus terungkapnya skandal demi skandal, upaya untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap olahraga ini menjadi semakin menantang. Meskipun demikian, langkah-langkah tegas yang diambil oleh otoritas China diharapkan dapat membawa perubahan positif dalam jangka panjang, tidak hanya di dunia sepak bola, tetapi juga di sektor olahraga lainnya.

Dengan tindakan tegas yang diambil terhadap para pejabat yang terlibat dalam praktik korupsi, diharapkan China dapat membangun kembali fondasi yang lebih bersih dan transparan, demi mencapai ambisi besar dalam dunia olahraga, terutama sepak bola.